Sabtu, 31 Maret 2012

PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN KREATIF


PERKEMBANGAN FISIK
            Perkembangan fisik berlangsung secara teratur, tidak secara acak. Perkembangan bayi ditandai adanya perubahan dari aktivitas yang tidak terkendali menjadi suatu aktivitas yang terkendali. Adalah merupakan hal yang mudah untuk mengamati aktivitas bayi yang tidak terkendali. lengan juga akan ikut bergerak-gerak. Secara berangsur-angsur, bayi akan menjadi lebih mampu 
            Pergerakan yang dilakukan secara sengaja dan terkendali juga akan teroganisir ke dalam pola, seperti menarik dirinya persis sama denga posisi berdiri, melepaskan tangannya, dan menggerakkan kaki untuk berjalan. Pola-pola ini kemudian berubah menjadi gerakan-gerakan anak dalam melakukan respons terhadap berbagai stimulasi yang berbeda.
Awalnya satu-satunya pilihan untuk mendapatkan mainan tersebut adalah dengan berlari dan bergoyang-goyang.  Seiring dengan perkembangan anak yang semakin maju, maka proses merayap dan akhirnya berjalan atau berlari akan menjadi suatu pola bagi perkembangan fisik anak.[1]
Aspek Perkembangan Fisik
Apa saja peningkatandi dalam pertumbuhan dan perkembangan motorik yang muncul pada anak-anak usia sekolah dan apa saja kebutuhan gizi mereka?
·         Perkembangan fisik pada masa kanak-kanak tengah tidak secepat pada masa awal.perbedaan yang besar muncul dalam tinggi dan berat
·         Gizi dan tidur yang tepat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan yang normal.
·         Karena perkembangan motorik meningkat, anak laki-laki dan anak perempuan dalam masaa kanak-kanak  tengah dapat terlibat dalam kegiatan motorik yang lebih banyak
·         Kegiatan waktu istirahat informal membantu mengembangkan keterampilan fisik dan sosial. Permainan anak-anak- laki-laki cenderung lebih bersifat fisik dan permainan anak perempuan lebih bersifat verbal.
·         Sekitar 10 persen permainan anak-anak sekolah, terutama anak laki-laki adalah permainan kekacauan dan kekasaran
·         Banyak anak, terutama anak laki-laki, terlibat dalam olahraga kompetitif. Program pendidikan jasmani seharusnya mempunyai tujuan keterampilan dan kebugaran bagi seluruh anak.[2]


PERKEMBANGAN MOTORIK
Bagaimana Perkembangan Motorik Terjadi:
 Menurut Esther Thelen ( 1995 ), perkembangan motorik adalah proses berkelanjutan dari interaksi antara bayi dan lingkungan. Thelen menunjuk refeks berjalan: gerakan menginjak yang dibuat oleh Neonatus saat ereka dituntun dalam posisi berdiri dengan kaki menyetuh lantai. Prilaku ini biasanya hilang di bulan keempat. Tidak sampai akhir tahun pertama,  saat bayi mulai bersiap untuk belajar berjalan, gerakan itu muncul kembali. Penjelasan biasanya adalah perubahan kontrol kortikal : cara berjalan bayi yang lebih besar yang memang bertujuan dilihat sebagai kemampuan baru yang mencerminkan perkembangan otak.. namun, menurut pengamatan thelen, langkah bayi baru lahir melibatkan gerakan yang sama yang dibuat oleh neonatus saat berbaring dan menendang. Mengapa melangkah berhenti dan baru muncul kembali beberapa bulan kemudian, sedangkan menendang terus ada? Jawabannya dalah, menurutnya, kaki bayi menjadi tebal dan berat selama bulan-bulan awal, tetapi belum kuat untuk membawa peningkatan berat ( thelen & fisher, 1982,1983 ). Faktanya, saat bayi dipegang diair hangat, yang membantu menyangga kaki mereka, langkah itu muncul kembali. Kemampuan mereka untuk  memproduksi gerakan tidak pernah berubah  - hanya kondisi fisik dan lingkungan yang menghalangi atau mendorongnya.
            Menurut Thelen, kematangan saja tidak menjelaskan pengamatan tersebut. Bayi dan lingkungan membentuk sistem yang saling berhubungan dan perkembangan memiliki penyebab yang saling berinteraksi . satu adalah motivasi bayi untuk berbuat sesuatu ( misalnya mengambil mainan atau menuju posisi lain dari ruangan ). Karakteristik fisik dari bayi dan posisinya di setting tertentu ( misalnya terbaring di buaian atau dipegang berdiri di kolam renang ) memberikan kesempatan dan hambatan yang mempengaruhi apakah dan bagaimana bayi dapat mencapai tujuan. Pada akhirnya, solusi muncul saat bayi mencoba berbagai prilaku dan mengingat mana yang paling efisien untuk menyelesaikan tugas tersebut. Otak yang sedang dalam proses menuju kematangan tidak sepenuhnya bertanggung jawab dalam proses ini, melainkan hanya sebagai kontributor.
            Menurut Thelen, bayi normal mengembangkan keterampilan yang sama dengan urutan yang sama karena mereka memang dibangun  dengan cara sama dan memiliki tantangan dan kebutuhan fisik yang sama. Oleh karena itu, mereka pada akhirnya menemukan bahwa berjalan lebih efisien di bandingkan  merangkak dalam kebanyakan situasi. Hipotesis  Thelen – bahwa penemuan  ini muncul dari setiap pengalaman bayi dalam konteks tertentu-dapat membatu mmenjelaskan mengapa beberapa bayi belajar untuk berjaan lebih dulu dibandingkan dengan bayi lain.[3]

PENGERTIAN BERMAIN
            Irawati berpendapat bahwa bermain adalah kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada direntang usia 3-6 tahun. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, member kesenangan, dan mengembangkan imajinasi anak spontan dan tanpa beban. Pada saat kegiatan bermain berlangsung hamper semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan kretivitas. Pernyataan ini sejalan dengan Catron dan Allen (1999:21) yang mengemukakan bahwa bermain dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap semua area perkembangan. Anak-anak dapat mengambil kesempatan untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Selain itu, kegiatan bermain juga memberikan kebebasan pada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan suatu bentuk kreativitas. Anak-anak memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk bermain, memadukan sesuatu yang baru dengan apa yang tekah diketahui.[4]
               
PENGERTIAN KREATIVITAS
            Kreativitas merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif yang bersifat imajinatif, estetis, fleksibel, integrasi, suksesi, diskontinuitas, dan diverensasi yang berdaya guna dalam berbagai bidang untuk memecahkan suatu masalah.
            Adapun proses kretif hanya akan terjadi jika dibangkitkan melalui masalah yang memacu pada lima macam perilaku kreatif, sebagaimana yang dipaparkan oleh Parnes (dalam Nursito : 2000) sebagai berikut :
a)    Fluency (kelancaran), yaitu kemampuan mengemukakan ide yang serupa untuk memecahkan suatu masalah.
b)    Flexibility (keluwesan), yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai macam ide guna memecahkan suatu masalah diluar kategori yang biasa.
c)    Originality (keaslian), yaitu kemampuan memberikan respons yang unik atau luar biasa.
d)    Elaboration (keterperincian), yaitu kemampuan menyatakan pengarahan ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan.
e)    Sensivity (kepekaan), yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.[5]


A.   PENGERTIAN PERMAINAN KREATIF
            Istilah “permainan kreatif” sebenarnya tidak mengacu pada tipe permainan, tetapi pada pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan permainan kreatif digunakan sebagai dasar untuk merancang sebuah kurikulum yang disebut dengan “model kurikulum permainan kreatif”. Model ini awalnya dikembangkan di Universitas Tennessee, Knoxville pada tahun 1985. Secara teoritis model ini berpijak pada teori perkembangan Jean piaget, model pembelajaran konstruktif dan praktis pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan (developmentally appropriate practice) anak usia dini yang dikeluarkan oleh NAEYC.
            Kurikulum yang berbasis pada permainan dan menekankan pada pentingnya perkembangan kreativitas anak dan peranan permainan untuk membantu perkembangan anak yang meliputi 6 aspek yang saling berhubungan, yaitu kepribadian, emosi, kognisi, komunikasi, sosialisasi, dan keterampilan gerak motorik.
            Model kurikulum permainan keratif merupakan model yang fleksibel, terbuka, dan mudah digunakan oleh guru baik sejak usia bayi sampai usia anak TK atau untuk berbagai tipe komunitas anak. Model ini memusatkan perhatian pada pengoptimalan perkembangan anak melalui kegiatan yang terintegrasi, interaksi dengan lingkunga, dan pendekatan permainan kreatif bagi anak untuk mempelajari lingkungannya.
            Menurut Komite Kebijakan Laboratorium Perkembangan Anak (1985), seperti yang dikutip Catron dan Allen, pengoptimalan perkembangan anak yang ingin dicapai melalui permainan kreatif ini secara terperinci meliputi :
1.    Nilai diri dan kepercayaan diri,
2.    Kepercayaan, tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama,
3.    Hubungan interpersonal dan keterampilan berkomunikasi yang efektif,
4.    Kemampuan untuk bersikap/berpikir secara mandiri dan mengembangkan kontrol diri,
5.    Keterampilan untuk mengemukakan gagasan dan perasaannya,
6.    Pemahaman dan pengelolaan informasi tentang lingkungan fisik dan sosialnya,
7.    Pemerolehan dan penggunaan keterampilan untuk memecahkan masalah,
8.    Rasa ingin tahu tentang dunia sekitarnya dan rasa nyaman dalam belajar dan bereksplorasi.
Jadi pendekatan permainan kreatif ini akan mengasah kemampuan anak terutama dalam menumbuhkan optimisme dan aktualisasi diri anak. Pendekatan ini juga akan mengasah anak untuk menciptakan gagasan dalam lingkungan yang sportif dan menjelajahi dinamika kretivitas dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan baginya.
            Pendekatan permainan kreatif juga berhubungan erat dengan potensi kretif yang dimiliki tiap anak. Menurut Tegano (1991), seperti yang dikutip oleh Catron dan Allen dalam bukunya Early Curriculum, A Creative Play Model, potensi kreatif anak dapat dilihat dari dua sisi, yaitu karakteristik kognitif dan kepribadian.
            Karakteristik kognitif yang mencerminkan kreativitas tersebut meliputi :
1.    Fantasi, yang biasanya dikembangkan saat anak bermain sosiodrama atau bermain pura-pura,
2.    Berpikir divergen, yaitu dengan munculnya beragam tanggapan, pertanyaan dan gagasan anak,
3.    Rasa ingin tahu, yang meliputi bertanya, menyelidiki dan menguji coba sesuatu,
4.    Berpikir metaforik, yaitu mampu menghasilkan atau mengolah sesuatu menjadi suatu hal yang baru.
Sedangkan karakteristik kepribadian yang mencerminkan kretivitas meliputi :
1.    Karakter kreatif, yaitu mudah menyesuaikan diri, daya tahan tinggi, keterlibatan yang tinggi dalam kegiatan dan tidak mudah putus asa,
2.    Tidak terikat dengan kelaziman/konversi yang berlaku, dimana anak berorientasi pada sesuatu yang asli, baru, dan luwes,
3.    Berani mengambil risiko, yaitu kemauan untuk menerima tantangan atau mengambil resiko kesalahan,
4.    Motivasi tinggi, sebagai pendorong dan kontrol diri internal.[6]

B.    BERMAIN PERMAINAN KREATIF BAGI PENGEMBANGAN FISIK MOROTIK
            Permainan kretif akan membantu berbagai aspek perkembangan anak. Salah satunya adalah perkembangan fisik motorik anak. Permainan kretif akan mendorong kebutuhan anak untuk secara aktif berinteraksi dan terlibat dengan lingkungan fisiknya. Sejak bayi, anak mulai mempelajari dunia sekitarnya mulalui sensori motornya. Kegiatan ini akan terus berkembang seiring dengan kematangan dan keterampilan dari berbagai fungsi tubuhnya.
            Lingkungan bermain yang tebuka dan menantang motorik anak akan memacu perkembangan dari gerakan lokomotor (yaitu gerakan anak untuk berpindah dari satu tempat ketempat lain) nonlokomotor anak (yaitu gerakan dilingkungannya tanpa berpindah-pindah). Kegiatan bermain manipulative dengan berbagai alat permainan yang makin rumit juga akan mengembangkan motorik halus anak, terutama dalam koordinasi mata-tangan atau mata-kaki.
            Melalui permainan kreatif, anak berkesempatan untuk memperkaya gerakan-gerakannya. Berbagai gerakan dengan sensori mortor, tangan, kaki, kepala atau bagian tubuhnya yang lain melibatkan baik otot besar maupun otot kecil anak sehingga memungkinkan anak untuk secara penuh mengambangkan kemampuan fisik-motoriknya.
            Singkatnya, permainan kreatif akan mendukung perkembangan fisik motorik anak dalam beberapa aspek, sebagai berikut :
1.    Koordinasi mata dengan tangan atau mata dengan kaki, meliputi kegiatan menggambar, menulis, memanipulasi atau memainkan objek, latihan ingatan visual, melempar, menangkap, menendang, dll.
2.    Keterampilan gerakan lokomotor, meliputi berjalan, melompat, meloncat, berlari, berguling, merayap dan merangkak.
3.    Keterampilan gerakan nonlokomotor, meliputi duduk, berdiri, melambaikan tangan, hadap kanan-kiri, merentangkan tangan, membungkuk, jongkok, dll.
4.    Pengelolaan dan pengendalian tubuh, meliputi pemahaman akan fungsi tubuhnya, pemahaman tentang jarak, irama, keseimbngan, kemampuan untuk melalui atau mengakhiri gerakan dan melaksanakan perintah. Kegiatan yang dapat dilkukan, misalnya berjalan diatas papan titian, mengikuti jejak, senam irama, mengukur jarak dengan melangkah atau melompat, lomba lari.[7]

C.    JENIS DAN KLASIFIKASI BERMAIN KREATIF
            Dalam mengembangkan program kegiatan bermain, hal paling penting yang tidak dapat diabaikan adalah memilih aktivitas yang dapat mempertinggi pertumbuhan anak dalam seluruh aspek perkembangannya melalui kegiatan bermain bebas, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
            Cosby dan sawyer (1995:85) menyatakan bahwa permainan secara langsung mempengaruhi seluruh area perkembangan anak dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar tentang dirinya, orang lain, dan lingkungannya. Permainan memberikan anak-anak kebebasan untuk berimajinasi, menggali potensi diri/bakat dan untuk berkreativitas. Motivasi bermain pada anak muncul dari dalam diri mereka sendiri, mereka bermain untuk menikmati aktivitas mereka, untuk merasakan bahwa mereka mampu, dan untuk menyempurnakan apa saja yang telah ia dapat, baik yang telah mereka ketahui sebelumnya ataupun hal-hal yang baru.
            Adapun jenis permainan yang dapat dikembangkan di dalam program kegiatan bermain anak usia dini dapat digolongkan ke dalam berbagai jenis permainan seperti dikemukakan oleh Jefree, Mc.Conkey, dan Hewson (1984:15-21) ialah permainan eksploratif (exploratory play), permainan dinamis (energenic play), permainan dengan keterampilan (skillful play), permainan sosial (social play), permainan imajinatif (imaginative play) dan permainan teka-teki (puzzle-out play). Keenam penggolongan tersebut pada dasarnya saling terintegrasi satu dengan lainnya sehingga dalam penerapannya mungkin saja salah satu permainan dapat mengembangkan jenis permainan yang lainnya. Justru keterpaduan diantaranya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi anak saat melakukan permainan tersebut.
            Selain permainan diatas, untuk lebih memfokuskan pada permainan kreatif yang dikembangkan maka merujuk pada paparan Lopes dalam tulisannya yang berjudul “Creative Play Helps Children Grow”, menyatakan bahwa permainan kretif dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.    Kreasi terhadap objek (object creation) berupa kegiatan bermain dimana anak melakukan kreasi tertentu terhadap suatu objek.
b.    Cerita bersambung (continuing story) berupa kegiatan bermain dimana guru melalui awal sebuah cerita dan setiap anak menambahkan cerita selanjutnya bagian perbagian seperti cerita dengan menggunakan buku besar.
c.    Permainan drama kreatif (creatuve dramatic play) berupa permainan dimana anak dapat mengekspresikan diri melalui peniruan terhadap tingakah laku orang, hal ini dapat membuat mereka memahami dan menghadapi dunia seperti bermain dokter-dokteran.
d.    Gerakan kreatif (creative movement) berupa kegiatan bermain yang lebih menggunakan otot-otot besar seperti permainan aku seorang pemimpin dimana seorang anak melakukan gerakan tertentu dan anak lain mengikutinya/berpantomim atau kegiatan membangun dengan pasir, lumpur, dan atau tanah liat.
e.    Pertanyaan kretif (creative questioning) yang berhubungan dengan pertanyaan terbuka, menjawab pertanyaan dengan sentuhan panca indra, pertanyaan tentang perubahan, pertanyaan yang membutuhkan beragam jawaban, dan pertanyaan yang berhubungan dengan suatu proses atau kejadian.
Sementara itu, Britton (1992:22-23) yang mengkaji kembali teori yang dikemukakan oleh Mentessori mengungkapkan bahwa dalam pengembangan kurikulum bagi anak usia dini diperlukan pengembangan beberapa area, yaitu yang berhubungan dengan keterampilan hidup (practical life), pelatihan sensorik (sensorial training), bahasa (language), matematika (mathematic), dan pelatihan budaya 9cultural training). Pelaksanaan keempat area tersebut sangat bergantung pada periode sensitive dan ketertarikan yang dialami oleh masing-masing anak.
Apabila merujuk pembagian material ppermainan bagi anak usia dini menurut Bronson (1995:1-14) dibagi menjadi empat pengelompokkan, yaitu, alat bermain permainan sosial dan fantasi (social and fantasi play materials), alat permainan eksplorasi dan keterampilan (exploration and masrety play materials), alat permainan gerak, music dan seni (music, art and movement materials), serta alat permainan motorik kasar (gross motor play materials).
Klasifikasi kegiatan bermain kreatif yang diterapkan berikut ini merupakan gabungan dari pendapat diatas, yaitu:
a.    Kreasi terhadap objek (object creation) yang dapat diidentikkan dengan permainan keterampilan (skillful play).
b.    Permainan dalam cerita bersambung (continueing stori) yang dapat diidentikkan dengan permainan sosial (social play).
c.    Bermain drama kreatif (creative dramatic play). Yang dapat diidentikan dengan permainan sosial dan imajinatif (social and imajinatif play), permainan gerak kreatif (creative movement) yang dapat diidentikan dengan permainan eksploratif dan energik (exploratory and energetic play), serta
d.     Permainan melalui pertaanyaan kreatif (creative questioning) yang dapat diidentikan dengan permainan teka-teki (puzzle it-out play).[8]

D.    PERANAN GURU DALAM PERMAINAN KREATIF
            Bermain merupakan sarana bagi anak untuk mengungkapkan kreativitasnya. Melalui bermain anak-anak dapat menganalisis berbagai situasi atau benda dan mencoba menemukan cara baru untuk menatanya kembali. Misalnya saat bermain bongkar pasang dengan balok-balok, anak bisa membuat bentuk mercusuar, kemudian dibongkar lagi membuat sebuah terowongan bawah tanah, dibongkar lagi lalu membuat gedung perkantoran, dan seterusnya. Anak juga dapat menemukan fungsi baru yang berbeda dari suatu benda yang tidak biasanya, misalnya kursi dibalikkan untuk dijadikan kuda-kudaan. Anak juga dapat menjalin hubungan baru dengan teman-temannya yang sermula tidak dia kenal. Bermain juga merupakan sarana bagi anak untuk berpantasi dan berimajinasi yang akan membantunya menemukan gagasan baru, misalnya seandainya aku bisa terbang, apa yang akan ku lakukan ? seandainya aku bisa berbicara dengan semut, apa saja yang akan diceritakan semut itu pada ku.?.
            Setiap anak dapat menjadi kreatif. Mereka mempunyai motivasi yang kuat untuk menunjukkan gagasan-gagasan barunya atau hasil ciptaannya. Maka,saat anak-anak bermain bebas guru semestinya dapat menumbuhkan kepercayaan atau kemauan anak agar berani berekspresi atau menjelaskan gagasan barunya pada teman atau gurunya.
            Kreativitas merupakan kunci untuk meredam berbagai konflik yang terjadi pada anak. Dalam pola kehidupan masyarakat modern sekarang ini yang cenderung individualis, perlu dikembangkan cara-cara baru dalam meredam konflik pada anak yang semakin beragam. Melalui bermain dengan teman sebaya, anak dapat menemukan cara baru yang efektif untuk mulai berkomunikasi., jauh lebih mudah dari pada meminta anak untuk berkomunikasi secara verbal dalam suasana yang formal. Guru perlu memberikan rangsangan pada anak dengan berbagai pertanyaan dan penjajagan berbagai upaya agar anak terbiasa menggunakan pemikiran kreatif dan kebebasan berekspresi. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan guru, misalnya, bagaimana kita dapat membuat mobil-mobilan dari kardus aqua ini dengan lebih baik? Adakah manfaat lain dari kaleng bekas susu ini selain untuk tempat bunga? Apa yang akan kamu buat sebagai hadiah hari ulang tahun ibumu?.
            Guru memegang peranan penting dalam proses kretif saat anak-anak bermain. Guru diharapkan mempunyai kepekaan yang tinggi untuk tidak membuat anak-anak ‘ngambek’ di tengh-tengah proses kreatif mereka. Kadang anak-anak terlalu sering diarahkan dan diatur tentang apa yang harus mereka lakukan sehingga membuat mereka putus asa untuk mencoba sesuatu dengan caranya sendiri yang unik. Guru semestinya paham kapan saatnya membiarkan pembelajaran kreativitas tetap berjalan dan bagaimana menjaga supaya pemikiran dan gagasan anak tetap lancar mengalir.
            Beberapa kiat yang dapat digunakan guru untuk memotivasi proses kreatif pada anak-anak.
1.    Guru perlu menanggapi dan menghargai setiap pertanyaan anak meskipun pertanyaan tersebut aneh, unik, atau tidak lazim.
2.    Guru perlu mengembangkan kesempatan bagi anak untuk melakukan berbagai kegiatan dengan inisiatif sendiri.
3.    Anak-anak perlu tahu bahwa gagasan-gagasan mereka menarik dan bernilai.
4.    Guru perlu belajar untuk tidak terkaget-kaget dengan solusi atau gagasan yang tidak lazim yang dikemukakan anak.
5.    Anak-anak mestinya dapat melakukan pemikiran kreatif dalam suasana yang ‘bebas hukum’.
6.    Guru perlu memahami betul bahwa proses kreatif yang ada dalam pikiran anak lebih penting dari pada kegiatan yang harus dilakukan anak.
7.    Setiap anak memiliki kapasitas untuk menjadi kreatif dan guru bertanggung jawab untuk memfasilitasi perkembangan kreativitas anak, terutama kreativitas individual yang mungkin tampak unik dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
8.    Pengarahan dari guru akan memotivasi anak untuk meninjau ulang gagasannya.
9.    Guru selayaknya menghindari penilaian yang terlalu dini terhadap gagasan baru dari anak.
10. Kuantitas kreativitas yang terus-menerus lambat laun akan menghasilkan kualitas.[9]




E.    TUJUAN BERMAIN KREATIF
            Pada dasarnya bermain kreatif ini memiliki tujuan utama, yakni pemeliharaan perkembangan atau pertumbuhan optimal anak usia dini melalui pendekatan bermain yang kreatif, interaktif, dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak. Penekanan dari bermain kreatif adalah perkembangan kretivitas dari anak-anak, semua anak usia dini memiliki potensi kreatif tetapi perkembangan kreativitas sangat individual dan bervariasi antar anak yang satu dengan anak yang lainnya (Catron dan Allen, 1999:163).
            Menurut Piaget bermain kreatif terjadi pada tahap praoprasional yang berlangsung pada usia antara 2-7 tahun. Pada usia ini anak memiliki gambaran jiwa dan mampu mengakui dirinya serta dapat menggunakan simbol, contoh dari penggunaan symbol tersebut adalah bermain kreatif . melalui kegiatan memanipulasi simbol seorang anak akan berpikir dasar. Selain itu, Piaget juga mengemukakan bahwa bermain kreatif dapat dilakukan dengan bermain kata, menggambar, dan menulis kata.
            Elkonis salah seorang murid dari Vygotsky mengambarkan empat prinsip bermain kreatif, yaitu :
1.    Dalam nermain anak mengembangkan system untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam rangka mencapai tujuan yang lebih kompleks,
2.    Kemampuan untuk menempatkan perspektif orang lain melalui aturan-aturan dan menegosiasikan aturan bermain,
3.    Anak menggunakan replika untuk menggantikan objek nyata, lalu mereka menggunakan objek baru yang berbeda. Kemampuan menggunakan simbol termasuk didalam perkembangan berpikir abstrak dan imajinasi,
4.    Kehati-hatian dalam bermain mungkin terjadi karena anak perlu mengikuti aturan permainan yang telah ditentukan bersama teman-temannya.
Untuk mendukung keempat hal tersebut, seorang anak dapat melakukan kegiatan bermain yang situasinya merupakan khayalan anak tersebut atau yang biasa disebut dengan bermain sosiodrama, bermain pura-pura atau bermain drama.
Bermain kreatif adalah saat seorang anak secara langsung melibatkan dirinya dalam sebuah kegiatan atau permainan yang mengharuskan mereka untuk berpikir dalam cara yang tidak mempertimbangkan norma serta memusatkan diri pada sesuatu dalam permainan itu dan berkata “lihat aku dapat membuatnya ….”. adapun cara-cara  untuk memperkuat kreativitas pada anak adalah melonggarkan kontrol, menjaga kelangsungan, memberi toleransi terhadap ketidaktahuan, membuat lingkungan yang kreatif, merencanakan dan memecahkan masalah , serta menawarkan bukan menekan.[10]

F.     KURIKULUM BERMAIN KREATIF DALAM PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK
            Berdasarkan pendapat Dogde dan Colker (2000:5-10), filosofi kurikulum bermain kreatif didasarkan pada 4 pertanyaan, yaitu bagaimana anak membangun kemampuan social dan emosional, bagaimana anak belajar untuk berpikir, bagaimana anak mengembangkan kemampuan fisik, serta bagaimana anak berkembang melalui budaya. Berikut uraiannya :
a.    Anak membangun kemampuan sosial dan emosional
            Berdasarkan pendapat Erikson dalam Dogle dan Colker (2000:5-10) dan sejalan dengan pendapat Dworetzky (1996:339) yakni bahwa perkembangan sosial-emosional yang penting untuk dikembangkan dan harus dipelajari oleh anak adalah rasa percaya, kemandirian dan inisiatif.
            Pada rentang usia dini terdapat tiga dari delapan tahapan yang harus dipelajari, yaitu (1) rasa percaya terhadap lingkungan luar dari anak (to trusts others their families), (2) kemandirian dan pengendalian diri (to gain independence and self control), dan (3) mengambil inisiatif serta belajar berprilaku yang dapat diterima oleh kelompok sosial (to take initiative and assert themselvesin social acceptable ways).

b.    Anak belajar untuk berpikir
Piaget dalam Santrock (2002:308)berpendapat bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan informasi baru kestruktur kognitif yang sudah ada dalam benak anak. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru. Equilibrasiadalah penyesuaian antara asimilasi dan akomodasi.
c.    Anak mengembangkan kemampuan fisik
Kurikulum bermain kreatif pada anak usia dini haruslah dapat mengembangkan kemampuan motorik, baik itu motorik halus (fine motor) ataupu motorik kasar (gross motor). Motorik halus adalah aktivitas gerak yang melibatkan otot kecil, seperti meremas, menggenggam, memegang, sampai akhirnya anak mampu mencoret, menggembar, melukis, dan menulis. Sedangkan motorik kasar adah aktivitas gerak tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti merayap, berguling, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, lari, lompat, dan berbagai aktivitas menendang serta aktivitas menendang serta aktivitas melempar dan menangkap.
d.    Anak berkembang dipengaruhi budayanya
Kurikulum bermain kreatif pada anak usia dini haruslah disesuaikan dengan lingkungan dan budaya dimana anak itu berasal sehingga ketika proses pembelajaran terjadi anak tidak merasa asing dengan materi yang diajarkan oleh gurunya. Selain itu, kemampuan untuk mengembangkan potensi yang pada anak juga sangat tergantung pada interaksi sosial anak dengan lingkungan sekitarnya. Artinya apa yang dibelajarkan guru sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan anak sehingga dapat segera diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bermain mempengaruhi pikiran, mental, kematangan emosional, dan perkembangan jiwa anak-anak. Bermain menyediakan kesempatan untuk melahirkan ide-ide dan memperluas kemungkinan untuk melahirkan ide-ide baru yang kemudian diuji cobakan dalam suasana yang tidak kondusif untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.[11]  
Pada pembelajaran di TK, permainan kreatif untuk mengembangkan fisik-motorik anak dapat dilakukan setidaknya melalui 3 jenis kegiatan bermain, yaitu latihan (practice play), bermain simbolik (symbolic play), dan perlombaan dengan aturan (games with ruler).
1.    LATIHAN
Jenis permainan ini banyak digunakan untuk bayi atau anak dibawah usia tiga tahun. Namun kegiatan ini juga tetap dapat dilakukan anak TK dengan memperhatikan tingkat kesulitannya. Bentuk kegiatan latihan ini sangat bervariasi dan dilakukan dalam suasana yang menyenangkan sehingga anak-anak selalu tertarik untuk mencoba dan mencobanya lagi. Kegiatan yang dapat dilakukan, misalnya mengajak anak belajar berjalan, merangkak, menyediakan berbagai benda disekitar anak dengan warna dan bentuk bervariasi untuk diselidiki dengan sensori motornya, mengajak anak memanjat, berlari atau menari. Permainan dengan puzzle dan rancang bangun balok secara sederhana juga dapat diberikan pada anak usia ini, sebagai persiapan untuk membantunya menuju ketahap permainan berikutnya, yaitu bermain simbolik.

2.    PERMAINAN SIMBOLIK
Permainan simbolik banyak dilakukan saat anak berusia 2-7 tahun, yang terbagi dalam 2 tahap, yaitu bermain pura-pura untuk anak usia 2-4 tahun dan bermain drama untuk anak usia 4-7 tahun.
Barmain drama untuk anak TK bisa berlangsung sangat singkat, bisa juga berlangsung lama atau berulang kali bila anak sangat tertarik. Drama merupakan salah satu proses belajar yng paling intim dan personal. Bukan drama formal dengan para pemain yang sibuk menghafalkan teks skenario, memerlukan beberapa kali latihan untuk bisa tampil maksimal dipanggung atau dilengkapi dengan kostum, tata panggung atau rias wajah. Pengertian drama seperti itu jauh dari drama yang diinginkan di TK.
Bermain drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi peran dan kemampuannya tanpa takut akan kegagalan. Anak-anak dapat memerankan berbagai tokoh dalam cerita yang disukainya dengan menggunakan berbagai media, seperti boneka, kostum, topeng, sekaligus memperlancar keterampilan berkomunikasi verbalnya dan penggunaan fungsi motoriknya yang lain. Permainan drama ini, sangat bermanfaat untuk mengembangkan pengandalian gerakan tubuh. Misalnya, bagaimana selayaknya bergerak dan berbicara saat pura-pura jatuh tersandung batu atau saat menjemur pakaian atau saat panik menghindari tsunami, dll. Melalui berbagai skenario peran yang ia jalani, anak mempunyai kesempatan untuk bereksplorasi dengan tubuh, jiwa dan emosinya. Jadi, secara fisik anak akan semakin terampil dalam menggunakan berbagai fungsi tubuhnya.
Melalui permainan drama ini anak juga akan meningkat rasa percaya diri terhadap kemampuan fisiknya dan berkesempatan untuk mengekspresikan kreativitasnya. Berbagai berakan tubuh yang dilakukan saat bermain lambat laun akan meningkat sehingga anak mampu menghasilkan gerakan tubuh yang indah dan benar. Misalnya, dari gerakan menirukan kupu-kupu, lalu anak mampu menari kupu-kupu dengan gerakan yang indah. Tentu ini akan meningkatkan rasa percaya diri anak. Dengan bekal kepercayaan diri tersebut anak semakin terdorong untuk berkreasi dengan gerakan-gerakan lain yang belum ia kuasai. Ia mempelajarinya, lalu menguasai gerakan baru tersebut sehingga kepercayaan dirinya makin bertambah begitulah seterusnya. Guru yang pandai menyemangati dan memberikan rasa aman pada anak akan membuat anak terlibat dengan gerakan motorik yang lebih intens saat bermain.
Ada beberapa bentuk permainan drama :
1.    Stori play (bermain cerita) :
Melalui cerita, anak dapat bermain dengan berbicara atau melakukan gerakan sesuai kata-kata yang ada dalam cerita.
2.    Role-situation play ( bermain situasi-peran) :
Berbagai pengalaman sehari-hari dapat diangkat dalam jenis permainan ini. Anak-anak dapat berdiskusi dengan guru untuk merancang skenario cerita yang akan digunakan untuk bermain. Skenario cerita untuk bermain situasi peran ini sangat memerlukan imajinasi dari perancangnya supaya gerakan yang dilakukan anak-anak dapat bervariasi, menyenangkan dan tidak membahayakan.
Bermain drama situasi-peran dapat dilakukan dengan cara mimetic atau permainan meniru kegiatan-kegiatan yang sudah dikenal tanpa peralatan apa pun. Mimetic ini menumbuhkan imajinasi anak-anak untuk dapat melakukannya. Misal, menangkap kupu-kupu, memotong kayu, memanjat dingding, dll.
3.    Creative rhythms-dramatic play (bermain drama dengan irama kreatif) :
Jenis permainan ini melibatkan gerakan motorik yang cukup sulit bagi anak karena selain bergerak anak juga harus mempunyai pendengaran yang tajam agar gerakannya sesuai dengan irama yang dimainkan. Irama kretif dalam permainan ini dapat dipilih dari yang termudah, yaitu irama bebas (free rhythms), irama teridentifikasi (identification rhythms) atau drama berirama (dramatic rhythms).
Saat bermain dengan irama bebas, tiap anak awalnya diperbolehkan untuk menanggapi gerakan sesuai keinginannya saat dia mendengarkan irama yang dimainkan. Jika ada anak yang tidak bergerak meskipun irama sudah dimainkan maka guru perlu memberinya motivasi agar anak tersebut mau mengembangkan kemampuan motoriknya. Kadang-kadang, perintah singkat untuk gerakan tertentu diperlukan untuk mengenalkan berbagai kosep gerakan atau mimik muka, seperti posisi, waktu, daya, tubuh, dan ekspresi wajah. Namun demikian, interprestasi dalam berbagai perintah gerakan tersebut tetap dapat dilakukan oleh anak.
Beberapa konsep yang dapat dikombinasikan dalam irama bebas sebagai berikut :
a.    Konsep posisi, yaitu tinggi rendah, besar kecil, dan lain lain. Perintah yang dapat dilakukan, misalnya maju kedepan, mundur kebelakang, berjalan lurus, berbelok, jalan zigzag, loncat keatas, kepala tunduk kebawah, jongkok berdiri.
b.    Konsep waktu, yaitu cepat lambat, lama, singkat, dipercepat, diperlambat, dan lain-lain. Misalnya anak diminta berjalan dengan tempo lambat, makin lama makin cepat sehingga akhirnya, seperti berlari ditempat.
c.    Konsep daya, yaitu diam-bergerak, berpindah-berhenti, banyak-sedikit, berat-ringan, kuat-lemah, bertambah-berkurang, gerakan kuat–gerakan lembut, dll. Misalnya, gerakan kedua tangan diangkat keatas didepan wajah, seperti  orang sedang berdoa, lalu bersama-sama tangan diturunkan sampai keposisi  di samping tubuh. Gerakan ini dapat terus diperkuat tekanannya sampai seolah-olah sedang menimba air yang berat atau dengan gerakan lomba lari patung, yaitu meminta anak-anak untuk berlari dengan arah bebas, namun harus langsung berhenti saat guru memberi aba-aba ‘stop’,dan mulai berlari lagi saat ada aba-aba lari, begitu seterusnya.
d.    Konsep komposisi tubuh, yaitu sendirian,  berpasangan, misalnya bersilangan, dll. Gerakan ini merupakan bekal untuk gerakan menari.
e.    Konsep ekspresi wajah,  yaitu marah, sedih, kecewa, takut, berharap, malas,  lemas, serius, lelah, gembira, dll.
f.     Jenis permainan drama dengan irama kreatif yang kedua adalah irama identifikasi, yaitu menirukan gerakan atau menggunakannya untuk bergerak dari binatang, tanaman, kejadian, benda atau orang yang sudah diketahui anak diikuti dengan irama atau lagu tertentu. Disekeliling kita banyak sekali gerakan yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi, misalnya berbagai jenis binatang yang hidup di darat, laut, atau udara, berbagai profesi pekerjaan, berbagai alat permainan anak, berbagai permainan tradisional, alat transportasi, berbagai macam pertunjukan di sirkus.
g.    Jenis gerakan berirama yang ketiga dan yang paling sulit adalah drama berirama, yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan operet. Dalam geraka ini sudah ada alur cerita tertentu yang disiapkan, tetapi semua alur tersebut dilakukan melalui serangkaian gerakan berirama yang kadang-kadang diselingi nyanyian, bukan kata-kata ucapan biasa. Dalam operet ini guru perlu menjelaskan alur cerita yang diinginkan dan mempersilahkan anak untuk terlebih dulu mencoba menginterprestasikan gerakan yang sesuai. Jadi, diusahakan gerakan muncul dari anak, bukan  contoh dari guru. Jika anak merasa kesulitan menginterprestasikan gerakan tertentu, baru guru membantunya. Guru juga perlu memberikan masukan agar gerakan anak selaras dengan musik/lagu yang dimainkan.
3.  PERLOMBAAN
Jenis permainan pelombaan biasanya dilakukan saat anak berusia 7-12 tahun, namun juga dapat dilakukan untuk anak usia TK. Jika perlombaan akan diterapkan untuk anak TK maka ada rambu-rambu yang harus diperhatikan, yaitu berikut ini:
a.    Mengenalkan perlombaan dengan penerapan aturan secara bertahap dan membebaskan pada anak untuk terlibat atau tidak terlibat dalam lomba. Jadi, guru tidak mengharuskan setiap anak ikut lomba.
b.    Memilih jenis perlombaan yang gembira, aturannya luwes dan memperbolehkan anak untuk memodifikasi aturan supaya mereka mau aktif terlibat dalam perlombaan.
c.    Memilih beragam perlombaan yang mengembangkan berbagai tingkatan perkembangan keterampiln motorik dan lebih menekankan  pada tantangan dalam  perlombaan itu, bukan untuk  mencari siapa yang yang menang atau siapa yang kalah.
Berbagai perlombaan dalam olah raga dapat dirancang oleh guru. Dalam hal ini guru perlu mempertimbangkan  2 hal, pertama, Pengelolaan perlombaan yang sesuai dengan perkembangan anak. Untuk anak usia TK  perlombaan berlari,  menendang dan menangkap sudah memenuhi kegiatan yang membutuhkan keseimbangan  dan koordinasi mata  dengan tangan atau  mata dengan kaki. Kedua, tidak mementingkan aspek persaingan dalam perlombaan tersebut, tetapi lebih mementingkan kerjasama/kooperatif. Persaingan biasanya akan menimbulkan rasa frustasi bagi anak yang kalah atau kebanggaan yang berlebihan sebagai seorang ‘bintang’ bagi yang menang. Sedangka perlombaan kooperatif  ( cooperative play ) akan memungkinkan setiap anak menjadi pemain dengan cara bekerjasama, tanpa dibebani kekhawatiran tentang  nilai atau menang-kalah. Bentuk perlombaan kooperatif ini, misalnya dengan lomba bermain balok, bermain drama, menari atau senam secara berkelompok. Berbagai permainan tradisional yang mengandung nilai persaingan pun dapat dimodifikasi untuk lebih diarahkan pada permainan kooperatif yang menyenangkan.
Setelah kita mengetahui jenis permainan kreatif yang dapat dilakukan untuk mengembagkan fisik-motorik anak maka untuk merancang sebuah permainan yang sesuai perlu di perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini:
a.    Menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak untuk bebas mencoba dan menjelajahi berbagai benda, kegiatan maupun peralatan.
b.    Mengorganisasikan lingkungan di dalam dan luar kelas untuk memberikan kesempatan pada anak mengembangkan keterampilan motoriknya melalui permainan simbolis.
c.    Membiarkan anak untuk bergabung dalam perlombaan secara berkelompok saat perkembangan mereka sudah siap, dari pada mengharuskan mereka untuk ikut dalam sebuah lomba atau olah raga. Jika anak sudah tertarik untuk bergabung dalam sebuah grup lomba, utamakan perlombaan yang mengasah kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan kerja sama dari pada perlombaan yang berpaku pada aturan atau mengutamakan persaingan.
d.    Mendorong anak untuk menguji  keterampilan motoriknya dalam suasana yang membantu anak untuk mencapai keberhasilan sesuai tingkat perkembangan keterampilan motoriknya.
e.    Membantu anak membangun kesan diri yang positif tentang perkembangan fisik motoriknya dengan cara merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkatan keterampilan dan minatnya. Hendaknya guru tidak memberikan permainan yang terlalu mudah atau terlalu sulit bagi anak. Permainan yang terlalu mudah akan membuat anak cepat merasa bosan. Permainan yang terlalu sulit akan membuat anak merasa gagal ketika tidak berhasil menguasainya dan ini akan mengikis kesan diri positif pada dirinya.[12]

G.    BENTUK-BENTUK PERMAINAN KREATIF DALAM PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK DI TK
Mengembangkan fisik motorik di TK melalui permainan kreatif memerlukan perencanaan yang matang agar pelaksanaannya dapat sesuai dengan yang kita inginkan. Untuk memulai rancangan permainan tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengidentifikasi aspek tujuan pengembangan fisik motorik yang di inginkan, kemudian mencari jenis permainan yang sesuai. Setelah itu kita perlu pikirkan alat atau perlengkapan apa saja yang di perlukan untuk permainan tersebut dan kelompok mana yang kita harapkan dapat melakukan permainan itu, kelas A atau kelas B. Terakhir, kita  perlu menyusun langkah demi langkah cara melaksanakan permainan itu.
Berikut ini kita dapat melihat beberapa contoh permainan kreatif sesuai dengan aspek tujuan yang diinginkan:

1.    Permainan kreatif untuk Gerakan Motorik Halus
a.    Aku dapat memakai baju sendiri ( jenis : latihan )
1 ) Tujuannya mengenalkan berbagai keterampilan hidup mandiri khususnya memakai baju,  melatih koordinasi mata dan tangan.
2 )  Sasarannya anak TK kelas A ( 4-5 tahun )
3 )  Sarananya baju ukuran sedang yang dapat dipakai semua anak.
4 )  Cara bermain  :
a)    Guru memegang pakaian yang kancingnya telah dibuka sambil direntangkan anak-anak.
b)    Anak diminta maju ke depan kelas dan  membelakangi baju lalu memasukkan tangan kanan ke lengan baju,  mulai dari memasukkan tangan kanan ke lengan baju disusul tangan yang kiri ke lengan baju satunya.
c)    Guru juga dapat meletakkan baju di punggung anak, lalu anak diminta memasukkan tangannya ke lengan baju di  dekatnya.
d)    Jika anak sudah terampil, baju dapat dipegang anak sendiri dan guru hanya mengarahkan. Anak yang sudah terampil juga dapat diminta untuk membantu temannya yang belum terampil memakai baju.
e)    Untuk menghidupkan permainan, dapat diadakan perlombaan antar kelompok anak untuk berlomba memakai  baju dari seluruh anggota kelompok. Jumlah anggota tiap kelompok harus sama, dan diberikan batasan waktu untuk memakai baju, misalnya dengan aba-aba pluit oleh guru. Pemenangnya adalah kelompok yang anggota-anggotanya paling rapi (misalnya, kancing terpasang dengan benar dan paling banyak berhasil memakai baju).

b.    Topeng/boneka dari piring kertas ( jenis : permainan konstruktif/seni )
1)    Tujuannya anak terampil dalam koordinasi mata-tangan dengan cara melipat, menggunting, dan menempel.
2)    Sarananya piring kertas untuk kue,  karet gelang, kertas krep/origami berbagai warna, spidol, benang wol.
3)    Sasarannya anak TK kealas B
4)    Cara bermain
a)    Guru memberi contoh cara membuat topeng dari piring kertas utuh, anak-anak  memperhatikan lalu mengikuti contoh dari guru.
b)    Cara membuat topeng /boneka
(1) Membuat bentuk mata 2 buah dan mulut dari kertas krep/origami warna-warni, dengan cara menggambarnya terlebih dulu dengan spidol lalu digunting.
(2) Piring kertas dihias dengan menempelkan mata dan mulut dari kertas krep/origami warna-warni. Untuk bagian hidung sudah dibuatkan lubang segitiga oleh guru ( agar disaat anak memakai topeng tidak kesulitan bernafas ). Guru juga sudah menyiapkan lubang kecil di tepi kiri dan kanan piring untuk memasang karet.
(3) Beberapa helai benang wol dapat ditempel dibagian atas piring sebagai poni rambut
(4) Karet dipasangkan di lubang kiri dan kanan yang sudah di saipkan guru.
(5) Topeng dapat dipakai anak-anak dengan memasang tiap karet tersebut ke dua telinga. Karet gelang dapat diganti dengan menempel stik kayu kurang lebih 30 cm, untuk dipegang dengan tangan saat anak-anak ingin memakai topeng.
(6) Guru dapat juga memberikan alternatif bentuk boneka dari piring kertas, dengan cara melipat piring kertas menjadi 2 bagian seolah olah sebagai rahang atas. Setengah lingkaran yang depan (dengan garis tengah lingkaran di bagian atas), lalu dihiasi mata, hidung, mulut dari kertas origami. Boneka tersebut dapat dimainkan dengan memeganginya diantara ibu jari dan telunjuk saat bercakap-cakap.
(7) Anak-anak dapat memilih membuat bentuk topeng atau boneka sesuai keinginan.

2.    Permainan kreatif untuk Gerakan Lokomotor
a.    Berkunjung ke kebun binatang  ( jenis : drama-irama teridentifikasi )
1) Tujuan
a) Mengenalkan anak dengan berbagai gerakan binatang.
b) Melatih anak untuk menyesuaikan gerakan dengan irama/nyanyian.
2) Sarananya tape recorder, kaset
3) Sasarannya anak TK kelas A
4) Cara Bermain
a)    Anak-anak berdiri membentuk lingkaran, guru berada di tengah-tengah lingkaran.Tempat bermain bisa di dalam atau di luar kelas.
b)    Guru memainkan lagu ‘kebun binatang’ dari tape recorder, sambil mencontohkan gerakan yang diinginkan. Lagu kebun binatang sebagai berikut.
Mari kawan bermain dalam lingkaran
Melihat binatang yang ada di hutan
Binatang apakah itu binatang apakah itu
Klinci-klinci yang lucu
Beginilah jalannya, beginilah jalannya, beginilah jalannya
Beginilah jalannya, beginilah jalannya, baginilah jalannya
c)    Anak-anak menirukan gerakan guru. Pada baris kedua terakhir, anak-anak menghadap ke kanan dan berjalan ke depan, tetapi tetap dalam lingkaran menirukan gerakan kelinci melompat. Pada baris terakhir dari lagu anak-anak berbalik dan berjalan lagi seperti tadi
d)    Binatang yang ada dalam nyanyian dapat diganti syairnya (baris ke-4). Misalnya, dengan gajah-gajah yang besar, kera-kera yang lincah, bebek-bebek yang lucu, katak-katak yang lincah, dan lain-lain. Anak-anak  bergerak  menirukan  cara  binatang  berjalan menyesuaikan syair yang diganti tersebut.
e)    Jika  anak  sudah  dapat  menghafal  lagu  maka  guru  dapat menggantikan  taperecorder dengan  nyanyian dari  anak-anak langsung diiringi musik, misalnya drum.

b.    Ayo, dorong terus (jenis:perlombaan)
1)    Tujuannya melatih gerakan lokomotor, yaitu merayap.
2)    Sarananya tusuk gigi dan kacang merah yang sama besarnya. Tempat bermain di dalam ruangan, diusahakan berlantai ubin.
3)    Sasarannya anak TK kelas B
4)    Cara bermain
a)    Anak-anak  (kurang lebih 5-10)  berdiri  di  atas  garis  start dengan jarak kurang lebih 1 meter antara satu anak dengan anak lainnya.
b)    Di depan tiap anak dengan jarak sesuai kemampuan anak dibuat lingkaran-lingkaran untuk tiap anak.
c)    Tiap anak mendapat sebuah tusuk gigi yang diletakkan di mulut yang baru untuk mencegah penularan penyakit)
d)    Kacang merah diletakkan di lantai di depan setiap anak
e)    Guru memberi aba-aba,  “Ayo,  dorong!”,  lalu anak-anak cepat merebahkan  diri ke lantai dengan posisi tiarap menghadap kacang masing-masing,  lalu dengan tusuk gigi di mulut mereka mulai mendorong kacang menuju lingkaran-lingkaran di depannya.
f)     Pemenangnya  adalah anak yang paling cepat mendorong kacangnya.
g)    Secara bergantian  5-10  anak yang lain maju untuk berlomba. Pemenang dari masing-masing  tahap lomba dapat diminta untuk berlomba lagi.

3.    Permainan   Kreatif  untuk  Gerakan  Nonlokomotor
a.    Sedang apa sekarang? (jenis: latihan)
1)    Tujuannya melatih  anak dengan berbagai gerakan nonlokomotor,
2)    Sarananya tidak ada.
3)    Sasarannya Anak  TK  kelas A
4)    Cara bermainnya
a)    Anak-anak  dibagi dalam 2 kelompok,  misal kelompok  A dan  B. Masing-masing kelompok berdiri berbanjar berhadapan.
b)    Guru memperkenalkan lagu ‘Sedang Apa Sekarang?’, yaitu
Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang?
Sekarang sedang duduk,  sedang duduk sekarang
c)    Lagu tersebut dinyanyikan oleh kelompok A. Begitu  terdengar kata ‘duduk’  maka kelompok  B  harus segera duduk semua. Jika sampai akhir  lagu ada anak dari kelompok  B  yang belum juga  ‘duduk’ maka anak tersebut  harus dikelurkan dari kelompok.
d)    Setelah itu, giliran kelompok B yang bernyanyi, dengn terlebih dulu dipersilhkan berdiskusi sejenak untuk mengganti kata ‘duduk’ atau ‘sedang duduk’ dapat diganti dengan gerakan lain, misalnya berdiri, berputar, geleng kepala, tutup mata, lambai tangan, dsb. Kelompok A harus segera memperagakan gerakan yang disebutkan dalam lagu,  dan anak yng belum dapat memperagakan gerakan sampai lagu berakhir ditarik dari kelompok. Begitu seterusnya bergantian, misalnya masing-masing kelompok diberi  kesempatan 5 kali bernyanyi. Usahakan tiap lagu tersebut diulang gerakan yang diinginkan belum pernah disebutkan sebelumnya. Jika ada kelompok yang salah menyebutkan  gerakan yang pernah dilakukan maka guru berhak untuk mengalihkan hak kelompok tersebut kepada lawannya.
e)    Kelompok yang menang adalah kelompok dengan jumlah  anggota yang lebih banyak pada akhir pertemuan.

b.    Bermain cermin  ( jenis: bermain simbolik )
1)    Tujuannya melatih anak menirukan perubahan gerakan orang/benda lain seperti di muka cermin
2)    Sarannya cermin sebesar anak berdiri
3)    Sasarannya anak kelas B
4)    Cara bermain
a)    Guru memberikan kesempatan pada anak untuk mengamati dirinya pada cermin, dan menanyakan, “Bila kamu  membuat gerakan apa yang kau lihat dengan bayanganmu?‘’
b)    ‘’Ia membuat gerakan yang sama’’
c)    Setelah anak memahami bahwa cermin bisa ‘meniru’ gerakan, anak-anak secara berpasangan diminta berhadap-hadapan dengan anak lain. Lalu secara bergantian anak membuat gerakan dan pasangannya menirukan gerakan dan pasangannya menirukan gerakan tersebut. Jika cara meniru gerakan salah maka guru atau anak lain dapat membantu mengarahkan.

4.    Permainan kreatif untuk olah dan kontrol tubuh
a.    Burung-burung di pohon ( jenis: dramatisasi irama bebas )
1)    Tujuannya melatih pengontrolan gerakan tubuh untuk berlari, berhenti, sambil menyesuaikan dengan irama.
2)    Sarananya tape recorder, kaset,, lapangan terbuka yang cukup luas,anak-anak dalam jumlah 3n + 1 (minimal 7 anak, bisa 10, 13, 16 anak, dst).
3)    Sasarannya anak TK kelas A atau B.
4)    Cara bermain
a)    Setiap anak membentuk 1 pohon dan 1 ekor burung.
Caranya: 2 anak saling berpegangan erat berhadapan dan mengurung 1 orang anak (sebagai burung)
b)    Seorang anak yang tidak mendapat kelompok berperan sebagai 1 ekor burung di luar pohon.
c)    Permainan di mulai dengan nyanyian tentang burung, misalnya ‘burung kutilang’ dari ibu sud yang dimainkan dari tape recorder dan boleh juga sambil dinyanyikan oleh seluruh anak sambil melakukan gerakan bebas di kelompok masing-masing. Anak yang berada di luar ‘pohon’ boleh bergerak berkeliling sambil merentangkan tangan atau gerakan lainnya.   Syair lagu Burung kutilang.
Di pucuk pohon cempaka
Burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang pagi
Dengan tak  jemu-jemu
Mengangguk-angguk sambil berseru
Tri lili lililililili
Sambil berloncat-loncatan
Perahunya selalu terbuka
Di geleng-gelengkan kepalanya
Menentang langit biru
Tandanya suka ia berseru
Tri lili lililililili
d)    Apabila lagu berhenti , ‘ burung’ yang hinggap di ‘’pohon’ harus terbang ke luar dan berganti tempat, sementara itu ‘burung’ yang ada di luar pohon harus berusaha mencari pohon yang kosong.
e)    Dengan demikian, akan tetap ada 1 ekor ; burung’ yang berada di luar pohon dan permainan dapat diulang lagi sampai anak-anak puas.

b.    Kereta dorong (jenis: perlombaan )
1)    Tujuannya melatih anak untuk melakukan gerakan tubuh yang membutuhkan keseimbangan.
2)    Sarananya ruang bermain atau lapangan berumput.
3)    Sasarannya anak TK kelas B
4)    Cara bermain
a)    Permainan ini dimainkan secara berpasangan. Setiap pasang anak berperan seperti satu kereta dorong yang akan berlomba ke garis akhir.
b)    Guru membuat garis start dan finish dengan jarak sekitar 6 meter.
c)    Guru meminta tiap pasangan anak untuk membentuk kereta dorong dengan cara tiap pasangan anak berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menjadi kereta dorong lebih dulu. Anak yang terpilih mengambil posisi merangkak, seperti akan push up (kedua tangan dan kaki bertumpu di tanah seperti hewan berkaki 4).
d)    Kemudian, pasangannya berdiri di belakang temannya tersebut dan mengangkat kaki temannya yang sedang merangkak,  seolah-olah pegangan kereta dorong. Bla ada yang kesulitan mengangkat kaki temannya maka guru membantu mengangkatnya.
e)    Bila semua pasangaan telah siap dengan kereta dorongnya, guru menberi aba-aba ‘jalan’ lalu semua kereta dengan pendorongnya bergerak maju lurus ke depan sampai garis finish.
f)     Setibanya di garis finish, tiap pasangan berganti peran. Kereta menjadi pendorong dan pendorong menjadi kereta, lalu berjalan menuju garis start.
g)    Pemenangnya adalah pasanga yang lebih dulu sampai garis start kembali tanpa melepaskan pegangan keretanya sejak awal.[13]

KESIMPULAN :
            Permainan kreatif adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang digunakan sebagai pijakan bagi model kurikulum permainan kreatif yang menekankan pentingnya perkembangan kreativitas dan peranan permainan untuk membantu perkembangan anak melalui kegiatan yang terintegrasi dengan lingkungan, dan permainan.
            Guru berperan pernting dalam memotivasi proses kreatif anak, antara lain dengan cara menanggapi dengan baik setiap pertanyaan anak, memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan kegiatan atas inisiatif sendiri, memperhatikan dan memberikan ganjaran terhadap gagasan anak, tidak kaget dengan gagasan anak yang unik dan aneh, memberikan suasana yang aman dan bebas hokum, memberikan pengarahan seperlunya, tidak terburur-buru memberikan penilaian dan memfasilitasi curah pendapat agar tiap anak dapat menyampaikan gagasannya.
            Pengembangan fisik motorik di TK melalui permainan kreatif dapat dilakukan melalui tiga jenis kegiatan, yaitu latihan, bermain simbolik, dan perlombaan. Latihan biasanya digunakan untuk melatih suatu gerakan motorik kasar maupun halus yang baru sampai anak-anak menguasainya.
            Merancang pengembangan fisik motorik melalui sebuah permainannkreatif dimulai dari menentukan aspek perkembangan fisik motorik yang diinginkan, memilih atau menciptakan jenis permainan yang sesuai dengan tujuan, menentukan sasaran permainan – kelas A atau B, dan mendaftar alat/sarana yang diperlukan.    

REFERENSI:

1.    Nurani Sujiono Yuliani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, PT. Indeks Jakarta 2009.
2.    Olds Feldman Papalia, Human Development, Salemba Humaika Jakarta 2009.
3.    Rachmawati Yeni dan Kurniati Euis, Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak, Kencana Jakarta 2010.
4.    Sujiono Bambang Dkk, metode pengembangan Fisik, universitas Terbuka 2010.
5.    Nurani sujiono Yuliani dan Sujiono Bambang, Bermain Kretif Berbasis Kecerdasan Jamak, PT. Indeks Jakarta 2010.  

[1] Nurani Sujiono Yuliani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, PT Indeks Jakarta 2009, hal 62
[2] Olds Feldman Papalia, Human development, Salemba Humaika Jakarta 2009, hal. 481
[3] Ibit,  Hal. 196
[4] Op.cit. hal. 35
[5] Rachmawati Yeni dan Kurniati Euis, Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak, Kencana Jakarta 2010, Hal. 14-15
[6] Sujiono Bambang dkk, Metode Pengembangan Fisik, Universitas Terbuka (2010),  hal. 8.3-8.4
[7] Ibit, hal. 8.5
[8] Nurani Sujiono Yuliani dan Sujiono Bambang, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, PT Indeks Jakarta 2010, hal. 41-43
[9] Op.cit, hal. 8.6-8.9
[10] Nurani Sujiono Yuliani dan Sujiono Bambang, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, PT. Indeks Jakarta (2010),  hal. 35-36
[11] Ibit hal. 43-45
[12] Op.cit, hal. 8.14 - 8.20
[13] Op.cit, Hal. 8.20 – 8.27

1 komentar: